RSS

sikap santun

04 Dec

Wujud Jiwa Sufi dalam Hilmi

Sufi sejati adalah mereka yang santun dan murah hati. Sifat ini lahir dari keluasan ilmu dan mengendapnya banyak kebaikan dalam dirinya.

Menahan  amarah merupakan amal bathin yang tinggi. Tapi ternyata ada yang lebih tinggi dari itu, yakni bermurah hati, santun atau hilmu.  Dan Allah swt mempunyai sifat Halim, maha santun.

Menurut Said Hawwa: santun itu lebih utama di bandingkan menahan amarah. Karena menahan amarah lebih bersifat kondisional. Sedangkan hilmu adlah kondisi permanen. Soerang sufi tak memerlukan enegri lebih untuk menahan amarah.

Hilmu merupakan bukti kesempurnaan akal, dan ketundukan kekuatan amarah pada akal.

Rasulullah saw, bersabda: “Lima hal termasuk sunnah para Rasul: Mali, santun (hilmu), berbekam, bersiwak dan memakai wewangian” (HR Tirmizi)

Abu Hurairah berkata: Ada seorang laki-lai berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku mempunyainkerabat yang aku bersilaturhami pada mereka tetapi mereka memutusku, aku berbuat baik pada mereka tetapi mereka berbuat tidak baik padaku, mereka bertindak bodoh kepadaku namun aku tetap santun pada mereka”.  Nabi Saw bersabda: “Jika benar apa yang kamu ucapkan , maka seolah kamu melempar pasir panas pada mereka, dan pertolongan allah akan senantiasa bersamamu selam kamu berbuat demikian”

Di dalam Al-qur’an kata santun juga diartikan sebagai Rabbaniyun sebagai orang yang murah hati dan berilmu,

`Å3»s9ur (#qçRqä. z`¿ÍhŠÏY»­/u‘ $yJÎ/ óOçFZä. tbqßJÏk=yèè? |=»tGÅ3ø9$# $yJÎ/ur óOçFZä. tbqߙâ‘ô‰s? ÇÐÒÈ

akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

[208] Rabbani ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.

Atau  sebagai Haunan yg berarti lemah lembut, tidak kasar dan tidak angkuh:

ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ ’n?tã ÇÚö‘F{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y™ ÇÏÌÈ

63. dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Al-Hasan berkata: orang-orang yang santun bila di jahili mereka tidak membalas dengan dengan tindakan yang sama.  Mujahid berkata: Haunan itu apabila disakiti mereka memaafkan.

Umar ra. Berkata : “Belajarlah ilmu dan belajarlah tawadhu dan santun kepada ilmu.”

Imam Ali ra berkata: “Kebaikan itu bukan dengan banyak harta dan akan, akan tetapi dengan banyak ilmu, sikap santun, tidak membanggakan ibadah kepada orang, apabila berbuat kebaikan memuji Allah dan apabila berbuat keburukan memohon ampun kepada Allah”

Muawiyah menyebutkan bahwa seorang hamba tidak akan mencapai derajat cerdas sebelum kesantunannya mengalahkan kebodohannya dan kesabarannya mengalahkan syahwatnya dan itu tak akan tercapai kecuali dengan kekuatan ilmu.

Anas bin Malik berkata : jika orang itu di cela saudaranya ia berkata : “Jika kamu dusta maka semoga Allah mengampunimu dan jika kamu benar maka semoga Allah mengampuniku.”

Orang yang tidak membalas keburukan dengan keburukan dianggap membuat tembok, ia membuat benteng dalam dirinya bahwa keburukan yang ia terima tak akania lakukan demikian menurut Khalil Ahmad.

Rasulullah bersabda, “Tak seorangpun yang lebih sadar mendengar hinaan dibanding Allah. Orang-orang menjadikan sekutu bangi_Nya, dan menganggap-Nya memiliki anak. Namun demikian Dia tetap member rezeki, memaafkan, dan tetap memberi kepada mereka” (HR Muslim)

Lukman berkata: Tiga hal tidak akan di ketahui kecuali pada tiga hal. orang santun tidak diketahui kecuali pada saat marah, orang pemberani tidak di ketahui keculia saat perang, dan seorang saudara tidak diketahui kecuali pada saat di perlukan.”

Rasulullah bersabda: “Jika ada seseorang yang mencelamu dengan sesuatu yang ada pada dirimu maka janganlah kamu membalas mencelanya dengan apa yang ada pada dirinya.”    (HR. Ahmad)

 

Rasul bersabda: “Dua orang yang saling mencaci maki maka yang menanggung (dosa) adalah yang  memulai di antara keduanya  selagi orang yang teraniaya  tidak melampaui  batas”     (HR. Muslim)

Seseorang mencaci maki Abu Bakar, tetapi ia diam saja dan ketika Abu Bakar ra mulai membalas cacian itu, maka Rasulullah saw pun berdiri sehingga Abu Bakar bertanya: sesungguhnya engkau tadi diam saja ketika dia mencaci-maki aku, tetapi ketika aku berbicara engkau pun berdiri..? Nabi saw. Bersabda: “Karena tadi malaikat menjawab kamu dan ketika kamu berbicara  malikat pun pergi dan setan datang, maka aku tidak mau duduk dalam majelis bersama setan” (HR. Abu Daud)

 
Leave a comment

Posted by on 4 December 2012 in Pengertian

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Komentar Anda

    Domino99 on Islam dibangun diatas lima…
    Agen Domino QQ on Islam dibangun diatas lima…
    fadhzrin fathur kusu… on Islam dibangun diatas lima…
    ageng margyatno on Kisah turunnya wahyu pertama k…
    RIFA' ROYYA AL ISLAM… on Kisah turunnya wahyu pertama k…
    Prerametada on Kisah turunnya wahyu pertama k…
    Matt Bushs Local Mar… on Sejarah Perkembangan Hadist (b…
  • Facebook

  • Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Join 3 other followers

  •  
    %d bloggers like this: